- Tim MDT
- Zhang Wendong
Satu Operasi, Satu Amanah: Melindungi Martabat Hidup Pasien dengan Teknologi Intervensi Tingkat Milimeter
— Dialog dengan dr. Zhang Wendong, Kepala Bangsal Rawat Inap I Rumah Sakit Uni-Asia Chengdu
Beliau berkarier lebih dari 10 tahun di dunia kedokteran. Di bawah bimbingan Prof. Lü Jun dan Prof. Liao Zhengyin, beliau membangun sistem terapi intervensi vaskular dan ablasi yang berlandaskan pendekatan integratif antara pengobatan tradisional Tiongkok dan kedokteran modern.
Di dalam ruang operasi DSA Rumah Sakit Uni-Asia Chengdu, mikrokateter di tangan dr. Zhang Wendong bergerak lincah menelusuri pembuluh darah pasien di bawah panduan navigasi citra medis. Menangani rata-rata lima operasi per hari dengan volume tahunan mencapai lebih dari 1.000 operasi merupakan potret nyata dari rutinitas klinisnya selama lebih dari satu dekade. Beliau berturut-turut menimba ilmu dari Prof. Lü Jun di Rumah Sakit Afiliasi Kelima Universitas Zhengzhou dan Prof. Liao Zhengyin di Rumah Sakit Huaxi Universitas Sichuan. Dari kedua mentor tersebut, beliau mewarisi inti sari intervensi vaskular sekaligus filosofi intervensi minimal invasif non-vaskular, hingga secara bertahap berhasil membangun sistem terapinya sendiri.
Pada awal kariernya, beliau adalah seorang dokter bedah. Pengalaman menghadapi seorang pasien pascaoperasi kanker rektum yang mencoba mengakhiri hidup akibat stres pasca-pembuatan stoma mendorong dr. Zhang Wendong untuk mengevaluasi kembali dampak mendalam dari operasi bedah konvensional terhadap kualitas hidup pasien. Sejak saat itu, beliau dengan mantap beralih ke bidang intervensi radiologi, memfokuskan pandangannya pada jalur teknologi yang meminimalkan trauma, memberikan manfaat lebih besar, serta mampu mempertahankan fungsi fisiologis pasien secara maksimal. Beliau pernah menyampaikan, "Kedokteran bukan hanya sekadar mengobati penyakit, tetapi juga tentang melindungi martabat kehidupan." Kalimat ini menjadi pilar keyakinan profesinya yang tidak pernah goyah selama lebih dari sepuluh tahun terakhir.
Dalam peta keahlian teknisnya, dr. Zhang Wendong telah membangun struktur yang komprehensif dengan intervensi vaskular sebagai fondasi utama dan ablasi multimodal sebagai perluasannya. Di bidang intervensi vaskular, beliau mahir melakukan prosedur Transarterial Chemoembolization (TACE) dan Hepatic Arterial Infusion Chemotherapy (HAIC). Sementara di bidang intervensi non-vaskular, keahlian teknisnya mencakup ablasi gelombang mikro, krioablasi, implantasi partikel Iodium-125 radioaktif, serta terapi intervensi vaskular perifer. Beliau juga mengintegrasikan teori Kedokteran Tradisional Tiongkok mengenai "memperkuat daya tahan tubuh dan mengeliminasi faktor patogen" (Fuzheng Quxie) ke dalam program rehabilitasi pascaoperasi, membentuk sebuah model diagnosis dan terapi berupa "intervensi presisi minimal invasif + regulasi menyeluruh tradisional". Berdasarkan klasifikasi onkologi, kerja klinisnya mencakup berbagai jenis tumor padat, seperti kanker hati, kanker paru, kanker pankreas, kanker kolorektal, kanker ovarium, kanker lambung, kanker esofagus, karsinoma nasofaring, kolangiokarsinoma, kanker serviks, kanker ginjal, kanker kandung kemih, dan kanker prostat. Beliau selalu membawa komputer tablet yang menyimpan ribuan data citra operasi sebagai referensi berulang untuk perencanaan praoperasi dan evaluasi pascaoperasi.
Terdapat garis panduan yang jelas dalam keputusan klinis dr. Zhang Wendong, yaitu memberikan bobot yang setara antara destruksi presisi lokal dan regulasi sistemik menyeluruh. Dalam sebuah kasus kompleks baru-baru ini yang melibatkan metastasis hati akibat kanker usus, pasien mengalami resistensi obat setelah menjalani berbagai lini terapi standar. Tim MDT tempat beliau bernaung mengevaluasi kondisi tersebut dan memilih prosedur TACE untuk mengontrol tumor secara lokal, yang kemudian dilanjutkan secara sekuensial dengan terapi sistemik, membentuk strategi sinergis "lokal dikombinasikan dengan sistemik". Kasus lainnya melibatkan seorang pasien kanker paru stadium lanjut yang menempuh perjalanan sejauh 3.000 kilometer demi mendapatkan perawatan; tumornya menyumbat saluran napas sehingga pasien tidak dapat berbaring telentang. Pada hari kedua setelah dr. Zhang melakukan operasi embolisasi tumor tingkat kesulitan tinggi, pasien tersebut langsung dapat berbaring dan tidur dengan nyenyak karena gejalanya mereda secara signifikan. Ada pula seorang pasien tumor sinus paranasal yang menghadapi risiko operasi pengangkatan mata akibat desakan tumor pada area orbita. Melalui metode intervensi minimal invasif, dr. Zhang berhasil mengontrol lesi secara presisi sehingga menyelamatkan mata pasien tersebut. Kasus-kasus ini merefleksikan fleksibilitas dan kemampuannya dalam menyesuaikan teknologi minimal invasif pada berbagai posisi anatomi dan stadium penyakit yang berbeda.
Di samping memimpin pekerjaan diagnosis dan terapi di bangsal rawat inap, dr. Zhang Wendong juga mengomandani timnya untuk mengintegrasikan kolaborasi multidisiplin MDT dan standarisasi Pedoman CACA ke dalam rutinitas harian. Beliau juga mencurahkan energinya untuk berpartisipasi dalam edukasi publik mengenai kanker, membantu masyarakat awam memahami esensi penapisan kanker dengan benar demi menghindari kepanikan yang tidak perlu. Dari bidang bedah konvensional menuju dunia intervensi, beliau menghabiskan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk menyelesaikan transformasi kariernya. Ritme kerjanya yang menangani rata-rata lima operasi per hari dan lebih dari seribu operasi per tahun membuktikan posisi terapi intervensi yang tidak dapat tergantikan dalam onkologi modern.